Home Berita AS Bakal Lockdown Lagi Saat Biden Resmi Jabat Presiden?

AS Bakal Lockdown Lagi Saat Biden Resmi Jabat Presiden?

9
0

Jakarta

Penasihat Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Joe Biden, Michael Osterholm, mengatakan penerapan lockdown selama 4-6 minggu dapat membantu mengendalikan pandemi COVID-19. Sekaligus menjaga ekonomi, sampai vaksin mulai didistribusikan.

Michael Osterholm yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di Universitas Minnesota, mengatakan awal pekan ini, AS sedang menuju ‘neraka COVID-19’. Maksudnya, kasus positif di AS meningkat karena lebih banyak orang enggan memakai masker dan menjaga jarak.

Cuaca yang lebih dingin juga mendorong orang berkumpul di dalam ruangan, di mana virus dapat menyebar dengan lebih mudah. Lockdown nasional akan menurunkan jumlah kasus baru dan rawat inap pasien COVID-19 bisa lebih dikendalikan sementara dunia menunggu vaksin.

“Kami dapat membayar paket (stimulus) sekarang untuk menutupi semua gaji, gaji yang hilang untuk pekerja individu, kerugian perusahaan kecil, perusahaan menengah atau pemerintah kota, negara bagian, kabupaten. Kami bisa melakukan semua itu. Jika kita melakukan itu, maka kita bisa mengunci diri selama empat sampai enam minggu,” kata Osterholm dikutip dari CNBC, Kamis (12/11/2020).

Osterholm menjadi salah satu yang ditunjuk sebagai dewan penasihat COVID-19 yang beranggotakan 12 orang, yang sebelumnya diumumkan Biden.

Panel penasihat COVID-19 di AS diketuai oleh mantan Ahli Bedah Umum Vivek Murthy, mantan Komisaris Administrasi Makanan dan Obat David Kessler dan Dr. Marcella Nunez-Smith dari Universitas Yale.
Anggota gugus tugas lainnya terdiri dari Dr. Atul Gawande, seorang profesor bedah dan kebijakan kesehatan di Harvard, dan Dr. Rick Bright, ahli vaksin dan whistleblower yang mengundurkan diri dari jabatannya di pemerintahan Trump bulan lalu.

“Masalah dari kebijakan lockdown Maret hingga Mei lalu adalah hal itu tidak ketat secara seragam di seluruh negeri. Misalnya, Minnesota menganggap 78% pekerjanya penting,” tulis Osterholm di The New York Times. “Agar efektif, penguncian harus dilakukan sekomprehensif dan seketat mungkin,” sambung Osterholm.

Ahli epidemiologi telah berulang kali merujuk ke Selandia Baru, Australia, dan sebagian negara Asia yang berhasil menekan jumlah kasus baru setiap hari menjadi di bawah 10 kasus per harinya.

Osterholm menambahkan AS bakal menuju hari-hari gelap sebelum vaksin tersedia. Dia mengatakan sistem perawatan kesehatan di seluruh negeri sudah kewalahan terutama seperti di El Paso, Texas, di mana pejabat lokal telah menutup bisnis dan pemerintah federal mengirim sumber daya untuk menangani lonjakan kematian yang disebabkan COVID-19.

Osterholm mengatakan negara itu membutuhkan kepemimpinan. Presiden terpilih memiliki tugas untuk memberikan kepemimpinan itu, kepemimpinan serupa dibutuhkan juga dari pejabat lokal dan negara bagian atau mereka yang ada di komunitas medis.

(hns/hns)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here