Home Berita Erick Nggak Mau BUMN Bikin Universitas Lagi, Kenapa?

Erick Nggak Mau BUMN Bikin Universitas Lagi, Kenapa?

7
0

Jakarta

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan tidak ingin BUMN banyak membangun universitas. Ia menginginkan agar BUMN bisa fokus dalam meningkatkan kerja sama dengan perusahaan swasta.

Sementara itu, untuk kegiatan riset dan pengembangan produk BUMN, nantinya bisa dilakukan oleh universitas yang sudah ada, tanpa harus membangun universitas sendiri.

“Kita tidak mau lagi para BUMN ini selalu membuat universitas-universitas. Tapi bagaimana semua R&D nya dibalikkan kembali ke universitas. BUMN mendukung komersialisasi yang ada di universitas tersebut,” ungkapnya, pada acara virtual Jakarta Food Security Summit ke 5, Kamis (19/11/2020).

Ia mengaku, saat ini Kementerian BUMN akan menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk kegiatan riset dan pengembangan produk.

“Contoh saja kita sedang mendorong kerja sama dengan IPB. Mudah-mudahan 1-2 bulan ini terjadi. Sehingga biar research and development di universitas, kita yang komersialisasinya,” tambahnya.

Setelah kerjasama itu dilaksanakan, maka BUMN bisa fokus ke misi lainnya, yakni menjalin kerjasama dengan swasta menggunakan mekanisme Public Private Partnership (PPP) atau Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

“Contoh saja misalnya banyak sekali potensi lahan yang ada di Kementerian BUMN. Kita sedang mapping, mana lahan-lahan atau mana jenis pangan yang memang kapabilitasnya tidak baik. Jadi memang kelasnya belum di situlah. Tetapi kalau kita kuat, it’s okay. Tetapi kalau yang memang tidak maksimal, kenapa kita tidak maksimalkan dengan private sector,” kata Erick.

Erick mengatakan, saat ini BUMN sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta internasional. Kerjasama ini ada di sektor pariwisata melalui BUMN klaster pariwisata.

“Contoh saja misalnya di klaster pariwisata dan pada klaster pendukungnya, yang kemarin kita menggabungkan Garuda, Angkasa Pura, Hotel Indonesia, Sarinah, Borobudur menjadi satu platform pendukung, di mana value chain terjadi,” imbuhnya.

“Nah Sarinah kita dorong salah satunya bagaimana dia bisa menjadi ujung tombak, menjadi market buat UMKM. Nah tetapi Sarinah mungkin kapabilitasnya di dunia internasional berat. Karena itu kita bekerja sama dengan Dufry, perusahaan duty-free salah satu terbesar di dunia, tetapi dengan win-win partnership,” sambung dia.

(dna/dna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here