Home Berita Marak Gagal Bayar Bikin Ngeri Investasi, Begini Siasatinya

Marak Gagal Bayar Bikin Ngeri Investasi, Begini Siasatinya

5
0

Jakarta

Kasus gagal bayar investasi di Indonesia membuat masyarakat kapok dan takut untuk berinvestasi. Dalam tahun ini saja sudah ada beberapa kasus yang muncul, mulai dari Jouska hingga yang terbaru PT Indosterling Optima Investa (IOI).

Beberapa korbannya mengaku kapok untuk berinvestasi. Bahkan kini mereka seakan alergi dengan produk-produk investasi. Mereka lebih memilih untuk mengamankan uangnya dengan cara-cara konvensional seperti menabung.

Wajar saja mereka kapok, terkadang mereka sudah mengikuti tips dan saran memilih investasi yang benar. Seperti mengecek legalitasnya. Sering kali instansi yang menawarkan investasi mengaku sudah mengantongi izin dari otoritas terkait.de

Kemudian terkadang juga produk investasi yang ditawarkan memiliki imbal hasil yang cukup masuk akal. Selain itu produk yang ditawarkan juga sudah berjalan cukup lama. Tapi kenyataannya gagal bayar tetap menghantui.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menjelaskan, pada dasarnya masyarakat harus paham kegiatan investasi dalam bentuk apapun pasti memiliki risiko. Bahkan untuk produk investasi yang dijamin pemerintah seperti ORI pun juga memiliki risiko.

“Seperti misalnya kasus Yunani, itu pemerintahnya juga bisa kolaps. Artinya produk yang dijamin pemerintah pun punya risiko. Bahkan menabung di bank saja juga punya risiko seperti kasus Maybank kemarin. Beli logam mulia juga punya risiko kecurian. Jadi semua investasi pasti ada risikonya,” terangnya saat dihubungi detikcom, Minggu (22/11/2020).

Nah untuk menyiasati hal-hal yang terjadi belakangan ini, Andy kembali mengingatkan agar masyarakat melakukan diversifikasi dalam berinvestasi. Artinya jangan pernah menempatkan seluruh telur dalam keranjang yang sama.

“Jadi harus dipecah, misalnya jangan semuanya deposito, taruh juga di reksa dana atau logam mulia. Tapi misalnya dia tetap inginnya deposito saja, itu juga harus dipecah, bisa taruh di deposito bank A, bank B dan bank C,” terangnya.

Sedangkan Perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad menilai, ada salah satu hal penting yang sering dilupakan masyarakat dalam berinvestasi. Jangan pernah pilih produk investasi yang tidak dimengerti.

“Seperti misalnya kasus IOI, produk High Yield Promissory Notes (HYPN) itu setahu saya hanya diperuntukan bagi investor yang sudah paham jenis itu,” terangnya.

Tejasari mengimbau untuk memilih produk investasi yang bersifat umum atau sudah banyak dipahami khalayak ramai. Jangan pernah mau dirayu jika produk investasinya asing ditelinga, sekalipun pihak yang menawari orang yang sudah dikenal.

“Jadi buat kita yang awam-awam ya balik aja ke jalan yang memang aman. Pilih yang umum seperti reksa dana, saham, ORI. Kalau nggak ngerti ya jangan beli, jangan beli kucing dalam karung,” tegasnya.

(das/dna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here