Home Berita Meski ada pandemi, likuiditas perbankan disebut masih longgar

Meski ada pandemi, likuiditas perbankan disebut masih longgar

12
0

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Selama masa pandemi, kondisi likuiditas perbankan terus melonggar. Hal ini sejalan dengan masih melambatnya penyaluran kredit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menegaskan, dilihat dari rasio kecukupan likuiditas sejatinya bank di Tanah Air punya amunisi yang kuat untuk mendongkrak ekspansi ketika kondisi perekonomian telah pulih. 

Hal ini tercermin dari posisi alat likuid terhadap non core deposit dan pihak ketiga alias AL/NCD serta AL/DPK perbankan. Data OJK per 21 Oktober 2020 menunjukkan posisi AL/NCD dan AL/DPK ada di level 154,14% dan 32,94%. 

Posisi itu meningkat dari periode Maret 2020 ketika status pandemi dikeluarkan yakni masing-masing 112,9% dan 24,16%. Nah, realisasi itu praktis melampaui batas bawah (treshold) yang ditetapkan regulator sebesar 50% untuk AL/NCD dan AL/DPK 10%. 

Baca Juga: Pasca akuisisi saham, Matahari bakal ubah ritelnya jadi branchless banking Bank Nobu

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menegaskan, untuk beberapa bulan mendatang likuiditas perbankan tidak punya isu. Selain punya indikator likuiditas yang kuat, pertumbuhan DPK perbankan secara industri juga cukup masif yakni 12,88% per September 2020. 

“Perbankan tidak mempunyai kendala dalam rangka untuk mendukung pertumbuhan,” kata Wimboh dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (12/11). 

Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id sepakat bahwa ke depan likuiditas masih akan stabil. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) misalnya menjelaskan untuk posisi 11 November 2020 rasio kecukupan likuiditas atau liquidity coverage ratio (LCR) masih sangat tebal di level 255,93%.

Sekadar informasi, LCR merupakan hasil perbandingan antara aset likuid terhadap kewajiban yang jatuh tempo selama satu bulan ke depan. 

Baca Juga: Penyaluran kredit masih seret, gara-gara korporasi masih enggan tarik kredit baru

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto bilang angka itu sudah jauh di atas ketentuan OJK sebesar 100%. Dalam mengelola likuiditas, bank nomor wahid ini ke depan akan tetap berupaya untuk mendorong penyaluran kredit. Salah satu segmen fokus perseroan yaitu kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). 

“Untuk mengakselerasi penyaluran kredit, BRI akan memanfaatkan basis data penerima stimulus bantuan pemerintah sebagai sumber pertumbuhan bisnis yang baru,” katanya, Kamis (12/11).

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


Kontan Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here