Wawasan

Menghitung premi dengan indeks asuransi jiwa

Menurut Keputusan Menteri Keuangan No.292/KMK.011/1982, terhitung mulai tanggal 1 Januari 1983, pemasaran polis asuransi jiwa di Indonesia dilakukan dengan menggunakan dua polis asuransi jiwa, yaitu:

  1. polis rupiah dengan indeks;
  2. polis rupiah tanpa indeks.

Polis rupiah dengan indeks adalah polis asuransi jiwa yang besarnya premi, besarnya klaim tebusan, dan jumlah uang pertanggungan (UP) dinyatakan dalam mata uang rupiah dan diperhitungkan terhadap indeks asuransi jiwa (IAJ). Sedangkan polis rupiah tanpa indeks adalah polis asuransi jiwa yang besarnya premi dan besarnya klaim tebusan serta UP dinyatakan dalam rupiah tanpa diperhitungkan dengan IAJ. Adapun yang dimaksud dengan IAJ adalah angka yang menunjukkan perkembangan nilai asuransi jiwa. Besarnya IAJ akan ditentukan oleh Direktorat Lembaga Keuangan, Departemen Keuangan dan akan diumumkan setiap awal bulan melalui media massa. IAJ mulai berlaku pukul 06.00 waktu setempat pada hari diterbitkannya dan berlaku selama bulan yang  bersangkutan. Dalam hal IAJ belum dapat diterbitkan pada waktunya, maka IAJ yang berlaku adalah yang telah ditentukan untuk periode sebelumnya.

Perhitungan besarnya premi, besarnya klaim tebusan, dan besarnya UP, yang ditutup berdasarkan polis rupiah dengan indeks dilakukan sebagai berikut:

Besarnya premi = IAJ pada waktu pembayaran X Premi yang tercantum pada polis
IAJ pada waktu penutupan asuransi
Klaim tebusan = IAJ pada waktu pembayaran X Nilai tebus polis yang bersangkutan
IAJ pada waktu penutupan asuransi
UP = IAJ pada waktu pembayaran X Uang pertanggungan yang tercantum pada polis
IAJ pada waktu penutupan asuransi

Atas polis asuransi yang tidak diperhitungkan terhadap indeks asuransi jiwa, maka dalam perhitungan besarnya klaim tebusan dan uang pertanggungan menggunakan indeks asuransi jiwa, akan tetapi kekurangan pembayaran premi karena tidak diperhitungkan dengan indeks asuransi jiwa tidak diperkenankan dipungut dari tertanggung. Selanjutnya apabila polis asuransi jiwa ditutup berdasarkan polis rupiah dengan indeks, maka dalam surat permintaan penutupan dan surat-surat lainnya dan polis harus dicantumkan besarnya IAJ yang berlaku pada waktu penutupan asuransi. Contoh: ditetapkan indeks asuransi jiwa sebagai berikut:

Tanggal 1 Januari 1984,    IAJ = 200

Tanggal 1 Februari 1984, IAJ = 200,76

Tanggal 1 Maret 1984,      IAJ = 201,21

Tanggal 1 Februari 1989,  IAJ = 209,94

Tanggal 1 April 1999,       IAJ = 215,47

Tanggal 1 Januari 2004,    IAJ = 218,38

Misalkan diketahui suatu asuransi jiwa dengan menggunakan polis dwiguna ditutup pada tanggal 1 Februari 1984 atas seorang tertanggung yang berusia 40 tahun berdasarkan polis rupiah dengan indeks untuk jangka waktu 15 tahun dengan uang pertanggungan Rp 2.000.000,00, besarnya premi menurut polis Rp 3.650,00., maka:

  1. Besarnya premi untuk bulan Februari 1984 yang dibayar oleh tertanggung pada tanggal 1 Februari 1984.
Premi yang dibayar  = 200,76 X Rp 3.650,00 = Rp 3.650,00
200,6
  1. Besarnya premi untuk bulan Maret 1984 yang dibayar oleh tertanggung pada tanggal 1 Maret 1984.

Premi yang dibayar  = 201,1 X Rp 3.650,00 = Rp 3.658,18
200,76
  1. Besarnya premi untuk bulan Februari 1989 yang dibayar oleh tertanggung pada tanggal 1 Februari 1989.

Premi yang dibayar  = 209,94 X Rp 3.650,00 = Rp 3.816,90
200,76
  1. Misalkan berdasarkan premi-premi yang telah dibayar oleh tertanggung setiap bulan, nilai tunai polis bulan Februari 1989 besarnya Rp 263.450,00. Apabila tertanggung memutuskan untuk tidak melanjutkan asuransi lagi, maka nilai tebus (klaim tebusan) yang dibayar oleh penanggung kepada tertanggung adalah:

Nilai tebus polis  = 209,4 X Rp 263.450,00 = Rp 275.496,58
200,6
  1. Apabila tertanggung meninggal pada bulan Mei 1999, besarnya klaim yang dibayar oleh penanggung kepada ahli waris tertanggung atau penerima benefit, yang namanya tercantum pada polis adalah:

Besarnya klaim  = 215,7 X Rp 2.000.000,00 =Rp 2.146.543,14
200,76

Besarnya klaim tersebut merupakan bukti nyata bahwa meskipun uang pertanggungan hanya Rp 2.000.000,00 namun besarnya klaim pada bulan Mei 1989 Rp 2.146.543,14. Ini sebagai akibat dari indeks yang semakin naik dari 200,76 pada bulan Februari 1984 menjadi Rp 215,47 pada bulan Mei 1989.

  1. Apabila tertanggung masih hidup hingga masa kontrak berakhir pada tanggal 31 Januari 2004, maka besarnya benefit yang dibayar oleh penanggung kepada tertanggung sebesar:

Besarnya benefit  = 218,8 X Rp 2.000.000,00 =Rp 2.175.532,97
200,6

Berdasarkan contoh-contoh di atas, jelas bahwa apabila indeks asuransi jiwa menaik maka dari segi benefit, menguntungkan tertanggung karena benefit yang diterimanya lebih besar dari nilai dasar benefit (UP). Sedangkan dari segi premi, akan menguntungkan penanggung karena premi yang dibayar oleh tertanggung lebih besar dari premi dasar. Kondisi ini berlaku sebaliknya untuk indeks asuransi jiwa menurun.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Soal dan Tryout Ujian AAMAI

Berita Terbaru

To Top